Kuliah Tamu Harumi Oshitani dari Jepang di STIKes Madani Yogyakarta

Hari sabtu bertepatan dengan tanggal 14 februari 2015, bertempat di Aula STIKes Madani Yogyakarta pada jam 09.30 wib diadakan kuliah tamu yang menghadirkan seorang perawat, bidan, praktisi sekaligus mahasiswa master program dari Kobe University. Beliau bernama Harumi Oshitani (34 tahun) memiliki pengalaman kerja selama 8 tahun di Red Cross Hospital di bagian gawat darurat dan intensive care unit (ICU) dan 2 tahun di JICA (Japan International Cooperation Agency) sebagai volunter nurse di paragui pada tahun 2009 sampai 2011. Mrs. Harumi menempuh pendidikan keperawatan pada tahun 1998 dan selesai pada tahun 2001, dan pada tahun yang sama juga telah mendapatkan lisensi sebagai RN (Register Nurse). Kemudian pada tahun 2002-2004 menempuh pendidikan lanjut dan mendapatkan lisensi sebagai Midwife (bidan) and Public Health Nurse (perawat komunitas). Saat ini Harumi Oshitani berada di Yogyakarta, dalam rangka melakukan penelitian dan pertukaran pelajar dengan Program Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Acara dibuka oleh moderator dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia Bapak Ns. Arif Rohman Mansur, M.Kep yang merupakan alumni program sarjana, profesi dan magister keperawatan FK UGM dan Ketua STIKes Madani Yogyakarta Bapak Darmasta Maulana, S.Kep. M.Kes. Kuliah tamu ini mengangkat tema “Meet and Share Sharing Experience of Japan Medical Education” pada awal kuliah Harumi Oshitani memulai dengan menampilkan gambar gedung kuliah Kobe University di jepang yang memiliki 8 lantai, beda 6 lantai dengan gedung kuliah STIKes Madani Yogyakarta yang baru 2 lantai. Selanjutnya Harumi mengucapkan salam kepada para peserta kuliah tamu, memperkenalkan dirinya dalam bahasa Indonesia. Harumi memaparkan tentang beberapa kesamaan negara Indonesia dengan Jepang, diantaranya dalam hal pakaian, Indonesia terkenal dengan batik sedangkan jepang terkenal dengan Kimono. Pada kesempatan ini, harumi memakai pakaian batik khas Indonesia. Beliau menjelaskan pakaian Kimono di jepang hanya digunakan pada acara tertentu seperti pesta pernikahan, karena harganya sangat mahal dan sangat berat untuk memakainya. Beberapa hal lain adalah tentang kesamaan berbagai jenis makanan mulai dari nasi goreng, mie goreng dll.

Selanjutnya harumi menceritakan tentang jenjang pendidikan keperawatan di jepang, ternyata kuliah disana lebih singkat. Karena pendidikan keperawatan bisa ditempuh hanya dalam waktu 3 tahun, kurang lebih setara diploma. Akan tetapi bisa langsung memperoleh sertifikasi sebagai seorang Register Nurse (RN). Kemudian untuk menjadi seorang bidan di jepang, merupakan hal yang sangat sulit, karena seleksinya sangat ketat dan harus memiliki latar belakang sebagai seorang perawa, selain itu kuota bagi calon mahasiswanya juga sangat sedikit berkisak hanya untuk 20 orang saja. Tidak seperti di negara kita, satu angkatan bidan bisa sampai 500 sampai 1000 mahasiswa di satu akademi kebidanan atau di STIKes. Untuk menjadi bidan di jepang diharuskan memiliki pengalaman menolong persalinan secara mandiri minimal sebanyak 10 kali, hal ini karena angka kelahiran bayi di jepang sangat kecil. Sehingga target yang diwajibkan jumlahnya hanya 10 kali saja.

seminarn

Di sesi tanya jawab mahasiswa atas nama Alex bertanya tentang apakah seorang muslim bisa bekerja di jepang dengan tetap menjalankan aktivitas ibadahnya seperti solat dll. Harumi menjawab di Kobe banyak orang islam, bahkan ada masjid di sana dan orang muslim dapat menemukan warung makan yang memiliki seritifikasi halal. Begitu juga dengan kuliah, banyak mahasiswa program doktor dari Indonesia yang sering solat di universitas, bahkan solatnya berkali-kali (kata Harumi). Dan hal ini tidak menjadi masalah bagi pihak universitas, karena mahasiswa diberikan kesempatan dan tempat untuk menjalankan ibadahnya. Kemudian ada seorang mahasiswi yang menanyakan tentang bagaimana caranya agar kita bisa disiplin seperti orang jepang. Harumi menjawab bahwa di jepang apabila seseorang ingin mendapatkan Trust (kepercayaan) dari orang lain maka dia harus Ontime, apabila seseorang sering terlambat maka dia tidak akan berhasil dalam karir dan tidak akan dipercaya oleh orang lain. Sebuah pelajaran berharga bagi kita semua, ternyata orang non muslim lebih menerapkan nilai-nilai ajaran agama islam yaitu kedisiplinan dalam kehidupannya sehari-hari.

Acara kuliah tamu perdana dari luar negeri ini, terselenggara atas kerjasama dari berbagai pihak. Khususnya adalah Bapak Darmasta Maulana, S.Kep. M.Kes sebagai ketua STIKes Madani Yogyakarta yang memberikan amanah kepada penulis untuk menyelenggarakan kuliah tamu. Kemudian kami bekerjasama dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKes Madani Yogyakarta yaitu saudara Ainul Rofiq untuk merencanakan kuliah tamu. Ketua BEM berkoordinasi dengan anggota teamnya (Ragil, Amir, Haider, Taslim, Irwan) serta panitia akhwat yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Mereka adalah tema yang sangat solid, telah bekerja dengan perencanaan sangat baik, kompak, tanpa pamrih, dan tidak mengenal lelah, semoga mendapatkan faedah yang banyak dari acara ini.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua dosen yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini. Bu Rahma Widyaningrum, S.Kep.Ns sebagai Guide sekaligus penerjemah kuliah tamu, Ibu Ighnasia Nila Siwi, S.Kep. Ns sebagai moderator dan Ibu Isti Antari, S.Kep .Ns yang telah bersedia mengantar Harumi Pulang serta Bapak Agus, S.E yang telah bersedia menahkodai mobil avanza hitam andalan kita semua, Bapak Faulan Filma, S.E selaku waket 2 yang telah membantu dengan anggaran kuliah tamunya. Serta semua yang telah berperan membantu terselenggaranya acara ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Penulis : Ns. Arif Rohman Mansur, M.Kep (NIDN : 0528088701)

Email : arif_ners@yahoo.com