Namanya Khoiruzzaman, Pria kelahiran Bukit Batu, Riau 23 Desember 1991 ini adalah alumni Mahasiswa Keperawatan Stikes Madani Yogyakarta tahun lalu dan baru saja menyandang gelar Sarjana Keperawatan Ners di pundaknya. Memikul gelar tersebut mungkin oleh sebagian orang dianggap ‘Wah!’, tapi bagi kami, itu adalah beban, awal dari semua perjuangan yang sudah dipersiapkan selama sekian tahun untuk membuktikan dan mengabdikan diri di masyarakat.

Sebagai adik tingkat, saya banyak belajar darinya. Mulai dari organisasi, kepemimpinan, decision making, problem solving, social and charitable behavior hingga keagamaan. Hal yang paling membekas adalah saat saya di ajak memenuhi undangan kegiatan Leadership oleh BEM Universitas Muhammadiyah Magelang di Buper Lereng Gunung Merapi Yogyakarta sekitar pertengahan tahun 2013, betapa sulitnya melawan alam bebas dan hidup di dalamnya. Hal yang paling saya ingat adalah saat malam-malam Beliau bersedia mengurangi jam belajarnya demi mengajari saya bagaimana membuat sebuah blog dan tata cara menulis yang baik sampai bisa.

Beliau yang aktif pada kegiatan mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA), kegiatan sosial keagamaan seperti FKAM dan lainnya terkadang mengundang saya menjadi tamu undangan atau sekedar hadir diminta bantuannya. Sebagai mahasiswa yang masih awam, dengan senang hati saya selalu ikuti tawaran dan ajakannya. Dan masih banyak lagi inspirasi yang tidak dapat saya ceritakan seluruhnya. MasyaAllah,.

Terakhir bertemu Beliau, sekitar 3 hari yang lalu di sebuah Counter kecil arah ke utara +/- 1,5 km dari kampus, Beliau sedang sibuk melayani pelanggannya (customer). Begitu lihainya Beliau hingga saya sendiripun merasa seperti pelanggan yang lain, walaupun sudah saling kenal, tetap tidak ada perbedaan dalam hal pelayanan. Sikap profesionalnya Ia tunjukan dari caranya berbicara dan menjelaskan setiap detil barang atau menanggapi claim pelangggan. Saya kagum melihatnya, senang dilayaninya, meskipun sudah saling kenal dan terlihat sedikit canggung, tetapi Beliau bisa menujukkan sikap profesioanalismenya kepada siapapun, kepada sahabat sekalipun.

Melihat Beliau yang sedang sibuk seperti itu, membuat saya terharu, karena saya juga pernah mengalaminya meskipun berbeda, saya dalam ikatan klinis. Meskipun nampak bahagia dalam garis senyumnya, saya bisa merasakan, dan mengerti yang ada di dalam benaknya adalah ‘Rindu rumah, keluarga dan ingin pulang’. Tapi apa daya, semua kembali kepada kita bahwa kita tidak mungkin hanya membawa selebaran kertas bertuliskan ‘Lulus’, ‘Quilified’ atau ‘Trained’. Yang orang tua tahu dan berharap, semoga anaknya segera mendapat kerja.

Selepas dari itu, sengaja berkumpul dengan teman-teman yang lain. Nampak tersirat di raut tiap kaka tingkat yang masih tersisa di asrama, seakan di benak terkumpul beribu jawaban yang dipeprsiapkan untuk menjawab pertanyaan keluarga sepulang nanti di kampung halaman.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang lain, ada yang mengikuti pelatihan, ada yang pulang kampung, juga ada yang akan segera berangkat ke luar negeri, namun nampaknya pria yang akrab dipanggil Azam ini sudah menikmati rutinitasnya. Bekerja sambil kuliah itu adalah pilhan sulit, bekerja jauh dari orang tua juga sulit. Bekerja di luar kemampuan terasa sulit, bekerja memaksakan diri juga sulit, tetapi lebih sulit lagi bila kita tidak pernah bisa membuang kata ‘SULIT’ itu dari setiap apapun yang kita kerjakan. Kesimpulannya, hal tersulit dari semuanya di atas adalah bila kita tidak pernah mengerjakan sesuatu apapun. Pengangguran!

Kagum dibuatnya, berpura diam dan tersenyum, saya perhatikan caranya Beliau melayani setiap customer yang datang. Apapun yang dicari klien selalu dipenuhi, bahkan hingga claim klien atas pelayanan di hari sebelumnya, pria yang hobinya menulis, blogging dan public speaking ini tetap menghadapinya dengan tenang dan penuh meyakinkan.

Memang, diantara semua penilaian terhadap diri kita, terkadang kita perlu penilaian dari orang lain. Kita merasa tidak bisa, tidak pantas atau tidak quilified, tetapi belum tentu di mata orang lain semua asumsi negetif kita itu sama dengan pandangan mereka.

Sahabat,.
Suatu saat, tentu kita akan menjadi pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri dan keluarga. Namun akan lebih membanggakan bila bisa menjadi pemimpin pada sebuah perusahaan, klinik ataupun rumah sakit. Seorang pemimpin itu memang seharusnya rendah hati dan melayani.

Sehebat-hebatnya pemimpin, tetap saja Beliau harus melayani customer. Kepala keluarga melayani keluarga, kepala pemerintahan melayani rakyat, direktur pelayanan kesehatan tentu juga harus bisa melayani pasien.

Namun, apakah seluruh orang di perusahaan sadar seberapa tinggi customer? Terkadang, kita masih bersikap kasar dan acuh terhadap customer. Disaat customer meminta sesuatu yang berbeda, kita malah marah. Kita sebagai tenaga kesehatan pernah marah kepada pasien??!!

Ada solusi yang menarik! Biasanya organisasi perusahaan berbentuk priramida yang menghadap ke atas. Bagian atas adalah pemimpin, bagian bawah adalah staf biasa. Nah, cobalah membalik piramida kita. Letakkan customer/ pasien di bagian paling atas, lalu, dibawahnnya ada staf biasa, lanjut terus sehingga bagian paling bawah adalah pimpinan perusahaan.

Dari cerita Bang Azam di atas, bisa diambil contoh. Ini melambangkan bahwa yang paling penting adalah customer. Juga menggambarkan pemimpin yang terus melayani dan menyediakan segala resources yang dibutuhkan oleh stafnya untuk melayani pelanggan.

Mungkin ini sangat sederhana, namun saat kita melakukannya, seluruh staf kita akan sadar betapa seriusnya perusahaan menghargai customer/pasien. Juga semakin menyadarkan pemimpin untuk terus rendah hati dan melayani,.

Anggaplah meraka customer sebagai tamu kita. Pada hakikatnya, Piramida terbalik ini tersirat dalam Adab Islam, bagaimana kita memuliakan tamu.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya. Para shahabat bartanya apa yang dimaksud dengan jaizah itu? Rasulullah menjawab: jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah.”  (HR. Bukhari dan Muslim dalam Fathul Bari’ Hadits No. 6135).

“Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlak para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim)

Selamat mencoba,.
#Semoga Sehat Selalu Bang Azam,.

Satya Putra Lencana, February, 10 th 2016
Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia, Pucang Gading, Semarang