Slogan “Mencegah lebih baik daripada mengobati” ini memang sangat luar biasa dampak baiknya apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Menurut Meta dalam Tribun News (2012), banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi virus hepatitis B. Mereka baru menyadarinya setelah gejala hepatitis B timbul dan melakukan pengecekan melalui laboratorium. Karena itu, hindari penyakit hepatitis B dengan melakukan vaksinasi. Sekitar dua miliar penduduk dunia pernah terinfeksi virus hepatitis B dan 360 juta orang diantaranya terinfeksi kronis. Hepatitis B berpotensi menjadi sirosis disertai gangguan fungsi hati berat dan karsinoma hepatoselular dengan angka kematian sebanyak 250 ribu per tahun.

Mengingat besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan, pencegahan dini penularan hepatitis B penting dilakukan, diantaranya dengan pemberian vaksin hepatitis B. Berdasarkan rekomendasi para ahli kesehatan, vaksinasi hepatitis B dilakukan pada individu-individu yang berisiko tinggi terkena penularan hepatitis B. Mereka adalah pekerja-pekerja kesehatan yang sering bekerja dengan jarum suntik, atau suami/istri sehat yang pasangannya mengidap hepatitis B kronis.

Vaksin hepatitis B terbuat dari antigen virus rekombinan inaktif. Bahan ini disuntikkan secara intramuscular (suntikan melalui otot) pada individu yang dipandang berisiko tinggi tertular virus hepatitis B. Sebelum divaksin, seseorang harus diperiksa lebih dulu HBSAg-nya dan anti HBS. Bila HBSAg-nya dinyatakan positif, maka kemungkinan orang tersebut telah menderita hepatitis B akut atau kronik, sehingga didiskualifikasi dalam pemberian vaksin hepatitis B.

Vaksinasi hepatitis B memang tidak diperkenankan diberikan pada penderita hepatitis B kronis. Sebaliknya, bila hasil pemeriksaan HBSAg dan anti HBS menunjukkan nilai negatif, maka vaksin hepatitis B dapat diberikan. Vaksinasi hepatitis B sayangnya memiliki efek samping. Efek samping yang sering timbul setelah penyuntikan vaksin hepatitis B dapat berupa demam, malaise (lemas), fatigue (gejala kelelahan), atau juga nyeri dan bengkak pada daerah penyuntikan. Namun umumnya, efek tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur-angsur hilang dengan sendirinya. Obat antidemam dapat dikonsumsi bila terdapat kenaikan suhu tubuh yang signifikan.

Seorang yang hendak divaksin hepatitis B juga harus berada dalam keadaan sehat total saat divaksin. Apabila individu yang hendak divaksin sedang mengalami flu atau infeksi virus lain, sebaiknya vaksinasi hepatitis B ditunda dulu. Vaksinasi hepatitis B diberikan 3 kali suntikan. Suntikan kedua, berjarak waktu satu bulan dari suntikan per tama. Suntikan ketiga, berjarak waktu 6 bulan dari suntikan pertama. Pasca pemberian suntikan, HBSAg bisa menjadi positif sementara. Namun hal ini segera disusul oleh meningkatnya kadar anti-HBS. Timbulnya antibodi inilah yang diharapkan mampu mencegah seseorang dari penularan virus hepatitis B.

BEM STIKes Madani bekerjasama dengan PT. Biofarma mengadakan kegiatan vaksinasi Hepatitis B. Kegiatan kali ini merupakan kali kedua dilaksanakan. Adapun jadwal vaksinasi yaitu pada tanggal 4 Desember 2015, 2 Januari 2016, dan terakhir 19 Februari 2016.