TINDAKAN MEDIS PADA SI KECIL DALAM DUA JAM KEHIDUPANNYA

TINDAKAN MEDIS PADA SI KECIL DALAM DUA JAM KEHIDUPANNYA

By Ari Sulistyawati

Assalamu’alaikum …

Kali ini kita akan mengetahui tindakan medis apa saja yang dilakukan terhadap bayi dalam dua jam pertama hidupnya.

Selamat membaca ….

Selain memahami apa saja yang dirasakan si kecil dalam dua jam hidupnya, kita juga perlu tahu tindakan medis apa saja yang dilakukan pada si kecil. Ini penting, agar orang tua paham dan terhindar dari praduga atau keresahan saat mengetahui si kecil yang harus dibawa ke ruang tindakan oleh Bidan.

Jika sesaat setelah lahir kondisi si kecil sehat dan langsung menangis, maka ia akan diberi kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera. Tapi, jika karena suatu hal yang menyebabkan si kecil belum bisa menangis secara spontan, maka tindakan emergency akan ditempuh untuk mencegah terjadinya gagal napas.

Tali pusat akan dipotong segera, dan si kecil dibawa ke ruang tindakan gawat darurat bayi baru lahir. Dalam naungan lampu sorot yang hangat, hidung dan mulutnya akan dimasuki alat pengisap agar jalan napas terbebas dari sumbatan cairan dan lendir.

Alat pengisap ini mengeluarkan bunyi yang cukup berisik. Kadang suaranya membuat perasaan keluarga bayi semakin tegang karena berpikir hal yang tidak karuan menimpa si kecil, dan ini wajar.

Selain pengisapan lendir, rangsangan taktil terhadap kulit si kecil juga dilakukan untuk menstimulus reflek bernapasnya. Bidan akan mengusap dengan mantap area dada, punggung, dan telapak kaki si kecil sambil mengajak bicara.

Setelah berhasil menangis, ia akan tetap dipantau sambil dihangatkan hingga stabil kondisinya. Setelah kondisi vital membaik, baru ia akan diberi kesempatan IMD.

Si kecil akan diberi injeksi vitamin K setelah IMD selesai. Bidan akan menyuntikkan vitamin K pada paha kiri. Tujuan injeksi ini adalah untuk mencegah perdarahan pada tali pusat karena sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum sempurna, terutama pada Bayi Baru Lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2.5 kg).

Tindakan medis berikutnya adalah pemeriksaan fisik si kecil, mulai dari tanda vital hingga pemeriksaan seluruh bagian tubuh.

Berikut ini adalah indikator bahwa si kecil dalam rentang normal.
– Berat badan : 2.500-4.000 gram.
– Panjang Badan : 48-52 cm.
– Lingkar dada: 30-38 cm.
– Lingkar kepala : 33-35 cm.
– Frekuensi denyut jantung: 120-160 x/menit
– Frekuensi pernapasan : 40-60x/menit.
– Kulit kemerah-merahan dan licin, yang menunjukkan bahwa jaringan lemak di bawah kulit cukup.
– Rambut lanugo (rambut halus) pada kulit tubuh tidak terlihat, kecuali rambut kepala.
– Kuku agak panjang dan lemas (tidak kaku).
– Genitalia : pada bayi laki-laki, testis sudah turun dan scrotum sudah terlihat, pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora.
– Reflek hisap dan menelan baik.
– Reflek Moro (gerak memeluk jika dikagetkan) terlihat jelas.
– Reflek menggenggam pada tangan dan kaki terlihat jelas.
– Eliminasi baik. Dalam 24 jam pertama bayi mengeluarkan meconium (feses berwarna hitam kecoklatan dan lengket). Pengeluaran meconium ini juga sebagai indikator bahwa si kecil tidak mengalami kelainan berupa athresia ani (ketiadaan lubang anus).

Setelah pemeriksaan selesai, si kecil akan diberi salep antibiotik pada mata. Tujuan pemberian salep mata ini untuk mencegah infeksi mata, karena bayi rawan terkena infeksi mengingat daya tahan mata terhadap paparan kuman masih lemah.

Terakhir, si kecil akan mendapatkan injeksi Hepatitis B satu jam setelah pemberian injeksi vitamin K.

Setelah semua rangkaian tindakan medis selesai, bayi idealnya didekatkan dengan ibunya. Seperti pada tulisan sebelumnya bahwa bayi akan berada pada fase tidur selama 4-6 jam, pada periode ini, jika keluarga ingin berinteraksi lebih dekat dengan bayi sudah kondusif, karena secara fisik sudah mulai stabil dan bayi dalam kondisi tenang tertidur sangat pulas.

*

Semoga setelah membaca tulisan ini, kita semakin aware dengan patokan normalitas bayi baru lahir, sehingga saat menemukan tanda yang senjang dari normal, kita bisa kooperatif segera melaporkan kepada tim medis yang merawat bayi kita.

Sekian, untuk kali ini, semoga bermanfaat.

7 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hubungi Kami via WhatsApp